ICNEWS – PALEMBANG – su perombakan kabinet kembali menghangat. Di tengah dinamika politik nasional dan kebutuhan pemerintah memperkuat kinerja Kabinet Merah Putih, sejumlah figur dari Sumatera Selatan dinilai memiliki kapasitas untuk dipertimbangkan masuk jajaran pemerintahan pusat.
Sekretaris Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) Korwil Sumatera Selatan, Ahmad Haekal Haffafah, melihat sedikitnya lima tokoh Sumsel memiliki rekam jejak dan kapasitas yang layak diperhitungkan jika Presiden Prabowo Subianto membuka ruang penyegaran kabinet. Minggu (16/8/2026).
Kelima nama itu adalah Prof. Dr. Ir. Anis Saggaff, MSCE, Prof. Dr. dr. Fachmi Idris, M.Kes., Dr. Agung Firman Sampurna, Prof. Dr. Taufiq Marwa, S.E., M.Si., dan Bursah Zarnubi.
“Kalau ukurannya kompetensi, pengalaman dan kemampuan memimpin, Sumsel punya sejumlah figur yang pantas diperhitungkan,” kata Haekal.
Menurut dia, kelima tokoh tersebut memiliki kekuatan pada bidang berbeda. Anis Saggaff kuat di bidang teknik, pembangunan dan manajemen perguruan tinggi. Mantan Rektor Universitas Sriwijaya dua periode itu juga pernah memimpin Persatuan Insinyur Indonesia Sumsel. Fachmi Idris memiliki pengalaman panjang di sektor kesehatan dan pernah dipercaya sebagai Direktur Utama BPJS Kesehatan, sehingga memahami langsung persoalan jaminan kesehatan nasional.
Sementara Agung Firman Sampurna memiliki pengalaman di bidang pemerintahan, audit dan tata kelola keuangan negara. Ia pernah menjadi Ketua BPK RI, sebuah pengalaman yang dinilai relevan dengan agenda efisiensi anggaran dan penguatan tata kelola pemerintahan.
“ Pak Agung punya pengalaman kuat dalam pengawasan dan tata kelola negara. Itu modal penting dalam pemerintahan,” ujar Haekal.
Nama Prof. Taufiq Marwa juga dinilai menarik. Rektor Universitas Sriwijaya tersebut merupakan akademisi bidang ekonomi yang memiliki pengalaman mengelola perguruan tinggi besar. Perspektif ekonomi pembangunan, pendidikan dan penguatan sumber daya manusia menjadi kekuatan yang dapat ditawarkan dalam pemerintahan.
Adapun Bursah Zarnubi memiliki karakter berbeda. Selain sebagai Bupati Lahat, Bursah terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) periode 2025–2030.
Posisi itu memberi penegasan bahwa Burza Zarnubi sebagai Tokoh Nasional memiliki jejaring luas dengan kepala daerah kabupaten di seluruh Indonesia. (Apkasi)
“Bursah punya pengalaman politik dan pemerintahan. Tokoh Nasional dengan jejaring nasional” kata Haekal.
Haekal menilai, munculnya nama-nama tersebut seharusnya dibaca dalam kerangka meritokrasi, bukan sekadar persoalan jatah politik Sumatera Selatan. Presiden, kata dia, membutuhkan figur yang mampu bekerja cepat, memahami persoalan sektoral dan menerjemahkan visi pemerintah menjadi kebijakan konkret.
Lima figur itu pun menawarkan kombinasi yang berbeda: Anis Saggaff dengan teknokrasi pembangunan, Fachmi Idris dengan pengalaman kesehatan nasional, Agung Firman Sampurna dengan tata kelola negara, Taufiq Marwa dengan ekonomi dan pendidikan, serta Bursah Zarnubi dengan politik pemerintahan dan hubungan pusat-daerah.
“Ukurannya harus kebutuhan negara. Kalau figur terbaiknya dari Sumsel, tentu itu menjadi kebanggaan daerah,” ujarnya.
Meski isu reshuffle terus bergulir, keputusan tetap berada di tangan Presiden. Karena itu, nama-nama tersebut belum dapat disebut sebagai calon menteri atau figur yang pasti masuk kabinet. Mereka lebih tepat dipandang sebagai bagian dari diskursus publik mengenai figur potensial yang memiliki rekam jejak untuk dipertimbangkan.
Bagi Sumsel, perbincangan ini sekaligus menunjukkan bahwa daerah tersebut memiliki stok kepemimpinan dengan latar yang beragam. Dari kampus, kesehatan, birokrasi, ekonomi hingga politik pemerintahan daerah, lima nama itu membawa pengalaman yang berbeda ke panggung nasional.
Pada akhirnya, jika reshuffle benar-benar dilakukan, pertaruhannya bukan sekadar mengganti nama dalam kabinet. Presiden membutuhkan orang yang mampu bekerja, menguasai bidangnya dan memberi dampak nyata.
Dan dalam ukuran itu, lima tokoh Sumsel tersebut layak masuk radar.












